Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitab Laa Taqrabu zina mengatakan ada empat pintu maksiat, yang jika pintu-pintu itu dibuka oleh seseorang maka tertariklah ia untuk masuk ke dalamnya, keempat pintu maksiat tersebut adalah:
1.
Al-Lahazhat (Pandangan pertama).
Yang satu ini bisa dikatakan sebagai "provokator" syahwat, atau
"utusan" syahwat. Oleh karenanya, menjaga pandangan merupakan pokok
dalam usaha menjaga kemaluan. Maka barang siapa yang melepaskan pandangannya
tanpa kendali,
niscaya dia akan menjerumuskan dirinya sendiri pada jurang kebinasaan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
لا تتبع النظرة النظرة، فإنما لك الأولى وليست لك الأخرى
"Janganlah kamu ikuti pendangan (pertama) itu dengan pandangan
(berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan
pandangan selanjutnya." (HR. At-Tirmidzi no. 2777, hadits hasan gharib).
Dan di dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda,
النظرة
سهم مسموم من سهام إبليس، فمن غض بصره عن محاسن امرأة الله أورث االله قلبه حلاوة
إلى يوم يلقاه
“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah panah iblis. Maka barang siapa
yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena
Allah semata, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari
kiamat.” (HR. Ahmad).
Pandangan adalah asal muasal seluruh musibah yang menimpa manusia. Sebab,
pandangan itu akan melahirkan lintasan dalam benak, kemudian lintasan itu akan
melahirkan pikiran, dan pikiran itulah yang melahirkan syahwat, dan dari
syahwat itu timbullah keinginan, kemudian keinginan itu menjadi kuat, dan
berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya apa yang tadinya melintas dalam
pikiran menjadi kenyataan, dan itu pasti akan terjadi selama tidak ada yang
menghalanginya. Oleh karena itu, dikatakan oleh sebagian ahli hikmah bahwa
“bersabar dalam menahan pandangan mata (bebannya) adalah lebih ringan dibanding
harus menanggung beban penderitaan yang ditimbulkannya.
2. Al-Khatharat (Pikiran yang melintas di benak).
Adapun "Al-Khatharat" (pikiran yang terlintas dibenak) maka urusannya
lebih sulit. Di sinilah tempat dimulainya aktifitas, yang baik ataupun yang
buruk. Dari sinilah lahirnya keinginan (untuk melakukan sesuatu) yang akhirnya
berubah menjadi tekad yang bulat. Maka barang siapa yang mampu mengendalikan
pikiran-pikiran yang melintas di benaknya, niscaya dia akan mampu mengendalikan
diri dan menundukkan hawa nafsunya. Dan orang yang tidak bisa mengendalikan
pikiran pikirannya, maka hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Dan
barang siapa yang menganggap remeh pikiran pikiran yang melintas di benaknya,
maka tanpa dia inginkan ia akan terseret pada
kebinasaan.
3. Al-Lafazhat (Ungkapan kata-kata).
Adapun tentang Al-Lafazhat (ungkapan kata kata), maka cara menjaganya adalah
dengan mencegah keluarnya kata-kata atau ucapan dari lidahnya, yang tidak
bermanfaat dan tidak bernilai. Misalnya dengan tidak berbicara kecuali dalam
hal yang diharapkan bisa memberikan keuntungan dan tambahan menyangkut masalah
keagamaannya. Bila ingin berbicara, hendaklah seseorang melihat dulu, apakah
ada manfaat dan keuntungannya atau tidak?.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas Radhiallahu ‘anhu yang marfu’, Nabi ﷺ bersabda,
لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه
حتى يستقيم لسانه
"Tidak akan istiqomah iman seorang hamba sehingga hatinya beristiqomah
(lebih dahulu), dan hati dia tidak akan istiqomah sehingga lidahnya
beristiqomah (lebih dahulu)." (HR. Ahmad no. 12636).
Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya
tentang hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau
menjawab, "Mulut dan kemaluan". (HR. Tirmidzi, dan ia berkata hadits
ini hasan shahih).
Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal apa yang dapat memasukkannya ke dalam
surga dan menjauhkannya dari api neraka?, lalu Nabi ﷺ
memberitahukan tentang pokok, tiang dan puncak yang paling tinggi dari amali
tersebut, setelah itu beliau bersabda, "Bagaimana kalau aku beritahu pada
kalian inti dari semua itu?", dia berkata, "Ya, ya Rasulullah",
lalu Nabi ﷺ memegang lidah beliau sendiri kemudian
bersabda, "Jagalah olehmu yang satu ini", maka Mu’adz berkata,
"Adakah kita disiksa disebabkan apa yang kita ucapkan?, beliau menjawab,
"Ibumu kehilangan engkau ya Mu’adz, tidakkah yang dapat menyungkurkan
banyak manusia di atas wajah mereka (ke Neraka) kecuali hasil (ucapan)
lidah-lidah mereka?". ( HR. Tirmidzi, dan ia berkata hadits hasan shahih).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda,
من
كان يؤمن باالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia
mengatakan yang baik baik atau diam saja." (HR. Bukhari no. 6475 dan
Muslim no. 74).
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu pernah memegang lidahnya dan berkata,
"Inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah", ucapan itu
adalah tawanan anda, bila ia sudah keluar dari mulut anda berarti andalah yang
menjadi tawanannya. Allah ﷻ selalu memonitor
lidah setiap kali berbicara.
4. Al-Khuthuwat (Langkah nyata untuk sebuah perbuatan).
Adapun tentang Al-Khuthuwat maka hal ini bisa dicegah dengan komitmen seorang
hamba untuk tidak menggerakkan kakinya kecuali untuk perbuatan yang bisa
diharapkan mendatangkan pahala dari Allah ﷻ.
Bila ternyata langkah kakinya itu tidak akan menambah pahala, maka mengurungkan
langkah tersebut tentu lebih baik baginya.
Dan sebenarnya bisa saja seseorang memperoleh pahala dari setiap perbuatan
mubah (yang boleh dikerjakan dan boleh juga ditinggalkan) yang dilakukannya
dengan cara berniat untuk Allah ﷻ. Dengan demikian maka
seluruh langkahnya akan bernilai ibadah.
Tergelincirnya seorang hamba dari perbuatan salah itu ada dua macam, yaitu
tergelincirnya kaki dan tergelincirnya lidah. Oleh karena itu kedua macam ini
disebutkan sejajar oleh Allah ﷻ dalam firman-Nya,
وعباد
الرحمن الذين يمشون على الأرض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما
Artinya: "Dan hamba hamba Ar-Rahman, yaitu mereka yang berjalan di atas
bumi dengan rendah hati dan apabila orang orang jahil menyapa mereka, mereka
mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan ayat
63).
Wallahu 'alam.


0 Komentar