Sebagian orang mengenal kata fitnah adalah sebagai tuduhan yang disampaikan seseorang kepada orang lain dengan tuduhan palsu, namun makna fitnah dalam hal ini adalah cobaan, musibah atau ujian yang dihadapi oleh umat manusia. Dan fitnah ini dibagi menjadi 2 yaitu fitnah syahwat dan fitnah syubhat, setiap manusia selama hidup di dunia pasti terkena salah satu dari kedua fitnah ini ataupun kedua-duanya pun bisa jadi ada pada seseorang.
1. Fitnah Syahwat
Fitnah syahwat adalah ujian, cobaan atau musibah yang dihadapi manusia berkaitan dengan nafsu, keinginan atau kecintaan seseorang, fitnah ini juga sering berkaitan dengan urusan perut dan kemaluan seseorang.
Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan berbagai keindahan dalam pandangan manusia yang membuatnya tergoda, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran ayat 14)
Dalam ayat lain Allah Jalla jalauh secara terang mengingatkan hambanya akan fitnah syahwat ini, berupa kecintaan terhadap harta benda dan juga anak-anak yang dimilikinya,
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun ayat 15)
Ketika manusia terkena fitnah, maka ia cenderung akan mencintai dan mendahulukan kecintaannya dari apapun bahkan sampai-sampai menuhankannya. Sehingga tidak jarang kita melihat bagaimana seseorang yang rela mengoleksi benda-benda yang dicintainya seperti kendaraan, perhiasan, benda-benda milik idolanya, dan yang lainnya dan kemudian melupakan Allah Tabaraka wa ta’ala sebagai pemilik sesuatunya dan akan kembali kepada-Nya kelak. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah mengingatkan akan hal ini dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun ayat 9)
Diatara kecintaan manusia yang disebutkan oleh Allah Jalla Jalaluh dalam Surat Ali Imran ayat 14 diatas, wanita adalah fitnah yang sering membuat laki-laki terjerembab kepada jurang kemaksiatan, terkena fitnah dan susah untuk keluar dari fitnah itu, sehingga benar apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu godaan pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2740)
2. Fitnah Syubhat
Fitnah ini adalah fitnah yang berhubungan dengan pemahaman, keyakinan, atau pemikiran seseorang yang membuatnya menyimpang atau sesat dari jalan kebenaran. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
...إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأنْفُسُ...
Artinya: “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.” (QS. An-Najm ayat 23)
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan mengenai fitnah ini: “Fitnah syubhat karena lemahnya pengetahuan dan sedikitnya ilmu...”
Fitnah syubhat ini menggerogoti pemikiran seseorang yang sebenarnya salah sehingga membuatnya merasa benar dan orang yang sebenarnya bodoh membuatnya merasa pintar, bukan hanya membuatnya sesat namun bisa mengajak orang lain untuk mendoktrin agar pendapat atau pemikirannya benar. Sehingga munculnya fitnah syubhat ini memunculkan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan syariat seperti munculnya ajaran liberal yang menyama ratakan semua agama, kemudian munculnya ajaran-ajaran yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Islam, padahal Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah bersabda dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Dalam riwayat lain disebutkan,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
3. Membentengi diri dari fitnah syahwat dan fitnah syubhat
Dibawah ini cara yang insyaa Allaah dapat menjadi solusi agar terhindar dari fitnah syahwat, diantaranya:
a. Menundukkan pandangan
Sebagaimana Allah Jalla Jalaluh berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur ayat 30)
Bukan hanya laki-laki, perempuan juga senantiasa menjaga pandangannya, Firman Allah:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya’..” (QS. An-Nur ayat 31)
b. Menutup Aurat
Lebih-lebih kepada kaum wanita yang cenderung menjadi sumber fitnah bagi laki-laki agar senantiasa menjaga batasan-batasan auratnya, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
احْفَظْ عَوْرَتَكَ إلَّا مِنْ زَوْجِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ
“Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki.” (HR. Abu Dawud no.4017, Tirmidzi no. 2794 dan yang lainnya)
c. Menikah atau berpuasa
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (HR. Bukhari no. 5066)
d. Memiliki sahabat yang shalih, yang mampu untuk saling mengingatkan kepada ketaatan dan kemungkaran, sebagaimana Allah Jalla Jalaluh berfirman:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat ayat 55)
e. Banyak mengingat kematian, karena kematian adalah pemutus kenikmatan.
Dengan mengingat kematian maka kita akan senantiasa berhati-hati untuk melakukan kemaksiatan karena bisa jadi Allah Jalla Jalaluh seketika mencabut nyawa kita tatkala sedang bermaksiat di hadapannya, kemudian juga kita merasa bahwa Allah Ta’ala mengawasi setia gerak-gerik hamba-Nya, bahkan semut hitam yang berjalan di malam hari.
f. Berdoa kepada Allah agar mampu menahan hawa nafsu.
Diantara doa yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah doa berikut:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي ، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ
“Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku.” (HR. Tirmidzi no. 3492 dan Abu Daud no. 1551)
Sedangkan untuk menjaga diri dari munculnya fitnah syubhat maka cara yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut:
a. Sentiasa menghadiri majelis ilmu
Dengan menghadiri majelis ilmu yang lurus, kita akan mendapat pencerahan di dalam beragama sehingga tidak terjerumus kepada prasangka ketika menjalani kehidupan.
b. Berteman dengan orang shalih.
c. Memikirkan setiap kata-kata yang akan dikeluarkan atau memperbanyak diam
Sebagaiaman dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no.47)
d. Memperbanyak doa, salah satu doa bisa kita bacakan adalah doa berlindung dari fitnah kehidupan yang dibacakan oleh Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat sebelum salam pada shalat:
اَللّهُمَّ إِنِّـى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan mati, dan dari kejahatan fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)


0 Komentar