Batalkah Wudhu Ketika Menyentuh Wanita Tanpa Pengahalang?

Sebagai permulaan, saya akan menghadiahkan kepada saudara-saudaraku, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.”[1]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Sesungguhnya kepala seseorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, atau bahkan hanya sekedar menyentuh.

Akan tetapi pembahasan disini adalah berkenaan dengan apabila itu terjadi, apakah hal itu membatalkan wudhu ataukah tidak?

Dari Aisyah Radhiallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبَّلَ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ


“Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium sebagian istri-istri beliau, kemudian beliau shalat dan tidak berwudhu.”
[3]

Dan dari Aisyah Radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, aku berbaring membujur seperti jenazah didepan beliau, hingga apabila beliau hendak berwitir, beliau menyentuhku dengan kakinya.”[4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam Al-Talkhish Al-Habir, “Isnadnya shahih, dan padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu.”

Dan dari Aisyah juga, dia berkata,

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ فِرَاشِهِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ


“Aku pernah kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari tempat tidur pada saat malam, maka aku mencarinya dan kemudian tanganku mengenai kedua telapak kaki beliau sedang beliau berada di masjid dan dua telapak kaki beliau dalam keadaan berdiri. Beliau berdoa (yang artinya), ‘Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari murkaMu dan dengan ampunanMu dari siksaMu. Dan aku berlindung kepadaMu dariMu, aku tidak mampu memuji sesuai dengan apa yang berhak Engkau dapatkan. Engkau sebagaimana yang Engkau puji atas diriMu’.”[5]

Imam Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, “Madzhab paling pertengahan yang menghimpun antara hadis-hadis (yang berhubungan dengan permasalahan ini) adalah madzhab yang tidak berpandangan bahwa menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu kecuali karena adanya syahwat.[6]


Oleh : Syaikh Abu Ammar Mahmud Al-Mishri

[Kitab Irsyad As-Salikin Ila Akththa’ Al-Mushallin]



[1] Tamam Al-Minnah, Karya Syaikh Al-Albani V, hal. 103.


[2] HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Umaimah binti Ruqaiqah. Lih. Takhrijnya didalam Shahih Al-Jami’ no. 2513.


[3] HR. Muslim dalam Kitab Ash-Shalah, 1/222 dan At-Tirmidzi, 5/3493.


[4] HR. An-Nasa’i, 1/101.


[5] HR. Muslim dalam Kitab Ash-Shalat, 1/222 dan At-Tirmidzi, 5/3493.


[6] Nail Al-Authar, 1/248.

Posting Komentar

0 Komentar