Mengingat Kematian

 

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhum berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ 

“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yakni kematian.” (HR. at-Tirmidzi dalam Abwab az-Zuhud dan Bab Ma Ja’a fi Dzikr Al-Maut (2307), An-Nasa’i dalam Kitab al-Janaiz Bab Katrah Dzikr Al-Maut (4/4), Ibnu Hibban (7/259) dari jalur riwayat Al-Fadhl bin Musa, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dan dari Abu Hurairah dia menyebutkannya).

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ [Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan]”, apakah yang dimaksud, hendaklah kalian memperbanyak mengingatnya untuk diri kalian sendiri ataukah untuk sesama kalian?

Jawabnya; Mencakup keduanya.

Sabda beliau “Haa Ja Ma” ada juga  yang mengatakan “Haa da ma” ini merupakan dua bahasa. “ha dza ma” artinya pemutus, sedangkan “ha da ma” berasal dari kata al-hada, (mengahncurkan) yakni menghanccurkan banguna, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, “pnghancur kenikmatan” yakni yang menghancurkan kenikmatan dan memutuskannya. Yang dimaksud dengan knikmatan disini adalah kenikmatan dunia. Karna kmatian bagi seseorang mukmin merupakan awal dari kenikmatan yang berbeda dengan kenikmatan dunia, sedangkan kenikmatan dunia itu terputus dengan kematian.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memperbanyak mengingat kematian, karena dengan mengingat kematian dapat melembutkan hati, bersikap zuhud terhadap dunia, dan dapat mengingatkan kepada keadaan yang mesti harus dilalui, sebagaimana dikatakan Ka’ab bin Zuhair di dalam Diwannya (1/49).

“Setiap seorang meskipun panjang umurnya

            Pada suatu hari akan dibawa oleh keranda kematian.”

Ini merupakan hakikat yang akan terjadi bagi seseorang untuk selalu mengingatnya, bukan hanya sekedar untuk menangis atau mengatakan, “Aku akan berpisah dengan keluargaku, negaraku, saudara-saudaraku, dan teman-temanku”, akan tetapi dengan memperbanyak mengingat kematian itu agar dapat mengambil pelajaran dan nasehat darinya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: 

فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ

“Berziarah kuburlah kalian, sesungguhnya hal itu dapat mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Ahmad (22496), At-Tirmidzi Kitab Al-Janaiz, Bab Ma Ja’a fi Ar-Rukhshah fi Ziyarah Al-Qubur no. (1054), An-nasa’i Kitab Adh-Dhahaya, Bab Al-Idzn fi Dzalik, no. (4430)). 

Apabila seseorang memperbanyak mengingat sesuatu, maka wajib baginya untuk mempersiapkan hal tersebut. Adapun persiapan untuk kematian adalah dengan keimanan dan amal shalih. Oleh sebab itu, tidak akan bermanfaat sekedar hanya dengan mengingat kepada orang-orang atas kematian, dan bahwa mereka akan berpindah dari alam dunia ini ke ke alam kubur, atau dengan memberikan nasehat-nasehat yang semisalnya, kecuali jika nasehat ini dibarengi dengan anjuran untuk melakukan amal shalih dan memaksimalkan waktu.

Beberapa Kandungan Hadis

1.      Seyogyanya bagi setiap orang (muslim) untuk menasehati dirinya atas sesuatu yang harus selalalu dinasehatkan, diantaranya adalah mengingat mati.

2.      Seyogyanya bagi setiap orang (muslim) untuk memperbanyak mengingat pengahncur kenikmatan (yakni kematian), baik mengingatkan terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.

3.      Sesunggunya kematian itu akan memutuskan semua kenikmatan. Jika seseorang yang mati adalah orang mukmin, maka terputuslah knimatannya dari dunia kepada kenikmatan yang lebih baik darinya. Dan jika seseorang yang mati itu kafir, maka putuslah kenikmatannya dari dunia kepada keadaan yang tidak ada kenikmatan padanya secara mutlak, yang ada hanyalah penderiataan dan bala’.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, Kitab Az-Zuhud Ar-Raqa’iq, tanpa bab nomor 2956).

Sesungguhnya dunia itu bagi orang mukmin obarat penjara, karena ia menunggu segala kenikmatan yang akan ia peroleh setelah keluar darinya. Bagi yang menunggu kenikmatan itu, ia bagaikan dalam penjara. Adapun bagi orang kafir, dunia itu bagaikan surga baginya. Karena meskipun sewaktu di dunia ini mendapatkan penderitaan, namun jika dibandingkan dengan adzab kubur dan adzab neraka, keberadaannya di dunia adalah bagiakan surga karena lebih enak dibandingkan dengan adzab kubur dan neraka yang dianggap sebagai surga.

Disebutkan dalam sebuat atsar dari Ibnu Hajar Al-Asqalani Rahimahullah saat menjabat sebagai hakim di Mesir, jika datang ke majelis kehakiman, dia datang naik kereta yang ditarik dengan bigal dengan ada prosesi penyambutan, pada suatu hari, lewatlah seorang Yahudi (tukang minyak) dengan baju yang kusut dan badan yang kelelahan. Lalu orang Yahudi tersebut mengentikan prosesi penyambutan seraya berkata kepada Ibnu Hajar, “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda, “Sesungguhnya dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir”, dan sekarang, kamu adalah seorang mukmin, namun kamu berada dalam kenikmatan, pemuliaan, dan pengagungan. -Sedangkan Yahudi tersebut berada dalam kehidupan yang sulit dan keprihatinan-, maka Ibnu Hajar berkata kepadanya, “Segala kenikmatam yang ada padaku jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat maka seperti penjara. Adapun kenikmatan kamu yang penuh penderiataan jika dibandingkan dengan akhirat bagikan surga,” Maka orang Yahudi itu memperhatikan dan mengambil pelajaran dari ucapan tersebut, lalu ia berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak untuk disembah selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

 

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Kitab Al-Janaiz]

Posting Komentar

0 Komentar