Ruqyah adalah salah satu pengobatan yang terdapat di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sampai sekarang masih banyak yang melakukannya, cara pengobatan ini dicontohkan Rasulullah dengan membacakan doa maupun ayat Al-Qur'an kepada tubuh baik kepada kita sendiri maupun kepada orang lain.
Namun masih banyak persepsi bahwa ruqyah hanya dilakukan untuk orang-orang yang mempunyai penyakit spritual (non fisik) seperti terkena santet, kerasukan jin, dan lain-lain. Padahal pendapat ini tidaklah tepat.
Imam An-Nawawi rahimahullah pernah berkata, “Bukanlah maknanya (ruqyah) jika hanya dibolehkan pada tiga penyakit tersebut (al-’ain, al-hummah dan an-namlah). Namun maksudnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang tiga hal itu, dan Beliau membolehkannya. Seandainya ditanya tentang yang lain, maka akan mengizinkannya pula. Beliau telah membolehkan untuk selain mereka, dan Beliau pun pernah meruqyah untuk selain tiga keluhan tadi” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim).
Allah Jalla Jalaluh berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Artinya: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penawar/kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra' ayat 82).
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk sebagian keluarganya (yang sakit) lalu beliau mengusap dengan tangan kanannya sambil membaca,
أَذْهِبِ البَاسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
"Ya Allah, Rabb seluruh manusia, hilangkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau adalah Dzat yang Maha Menyembuhkan. (Maka) tidak ada obat (yang menyembuhkan) kecuali obatmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Bukhari no. 5743 dan Muslim no. 2191)
Kemudian di Riwayatkan juga dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ، وَأَمْسَحُ عَنْهُ بِيَدِهِ، رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
“Sesungguhnya ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang sakit, maka beliau membacakan untuk dirinya sendiri al-mu’awwidzat (surat-surat Al-Qur’an dan doa-doa perlindungan) lalu meniupkannya pada diri beliau sendiri. Namun ketika sakit beliau telah parah, sayalah yang membacakan al-mu’awwidzat untuk beliau, lalu saya (tiupkan bacaan tersebut ke tangan beliau dan) usapkan tangan beliau ke badan beliau, dengan mengharap keberkahan tangan beliau.” (HR. Muslim no. 2192)
Lalu bagaimana cara melakukannya jika ada keluhan sakit fisik? Sebenarnya pertanyaan ini sudah ada jawabanya dari hadits diatas dan dengan hadits berikut: Dari Utsman bin Al-Ash radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan bahwa ia pernah mengeluhkan penyakitnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penyakit ditubuhnya. Rasulullah bersabda,
ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ بِاسْمِ اللهِ ثَلَاثًا، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
“Letakkan tanganmu dibagian tubuh yang sakit, lalu ucapkanlah, "bismillah" tiga kali, lalu ucapkan sebanyak tujuh kali "a’udzu billahi wa qudrootihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir", "Aku memohon perlindungan kepada Allah dengan kemuliaan dan kekuasaannya dari segala keburukan yang kudapatkan dan kukhawatirkan.” (HR. Muslim no. 2202)
Dengan demikian, pengobatan dengan ruqyah dapat digunakan oleh seorang muslim ketika ia mengalami sakit. Dan yang perlu diperhatikan adalah kesembuhan yang kita harapkan bukanlah dikarenakan karena lafadz-lafadz doa dan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut, melainkan oleh kekuasaan Allah semata. Insya Allah penyakit kita akan sembuh.


0 Komentar