Hadits Arba'in 07 : Agama Adalah Nasihat


Hadits #07

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْم الدَّارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ   وَسَلَّمَ قَالَ : الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ . قُلْنَا لِمَنْ ؟ قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ .

[رواه البخاري ومسلم]

 

Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Agama adalah nasehat, kami berkata: Kepada siapa?  beliau bersabda: Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya.

[Diriwayatkan oleh Muslim]

 

Status Hadits dan Takhrijnya:

Kualitas hadist adalah Shahih: HR. Muslim no. 55, Ahmad (IV/102-103), Abu Dawud no. 4944, an-Nasa’i (VII/156-157) dan selainnya.

Kandungan Hadits:

Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para  ulama  bahasa  arab  tentang  kata  Al  Fallaah  yang  tidak  memiliki  padanan  setara,  yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.

Kalimat,  “Agama  adalah  Nasihat”  maksudnya  adalah  sebagai  tiang  dan  penopang  agama,  sebagaimana  sabda  Rasulullah,  “Haji  adalah  arafah”,  maksudnya  wukuf  di  arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji. Tentang  penafsiran  kata  nasihat  dan  berbagai  cabangnya,  Khathabi  dan  ulama-ulama  lain mengatakan:

Pertama, Nasihat   untuk   Allah Subhanahu wa ta’ala   maksudnya   beriman   semata-mata   kepada-Nya,   menjauhkan  diri  dari  syirik  dan  sikap  ingkar  terhadap  sifat-sifat-Nya,  memberikan  kepada  Allah  sifat-sifat  sempurna  dan  segala  keagungan,  mensucikan-Nya  dari  segala  sifat  kekurangan,  menaati-Nya,  menjauhkan  diri  dari  perbuatan  dosa,  mencintai  dan  membenci   sesuatu   semata   karena-Nya,   berjihad   menghadapi   orang-orang   kafir,   mengakui  dan  bersyukur  atas  segala  nikmat-Nya,  berlaku  ikhlas  dalam  segala  urusan,  mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata: “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut,   kebaikannya   kembali   kepada   pelakunya   sendiri,   karena   Allah   tidak   memerlukan   kebaikan dari siapapun”

Kedua, Nasihat  untuk  kitab-Nya  maksudnya  beriman  kepada  firman-firman  Allah  dan  diturunkan-Nya  firman-firman  itu  kepada  Rasul-Nya,  mengakui  bahwa  itu  semua  tidak  sama  dengan  perkataan  manusia  dan  tidak  pula  dapat  dibandingkan  dengan  perkataan   siapapun,   kemudian   menghormati   firman   Allah,   membacanya   dengan   sungguh-sungguh,   melafazhkan   dengan   baik   dengan   sikap   rendah   hati   dalam   membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala  isinya,  mengikuti  hokum-hukumnya,  memahami  berbagai  macam  ilmunya  dan  kalimat-kalimat   perumpamaannya,   mengambilnya   sebagai   pelajaran,   merenungkan   segala   keajaibannya,   mengamalkan   dan   menerima   apa   adanya   tentang   ayat-ayat   mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah.

Kegita, Nasihat   untuk   Rasul-Nya maksudnya   membenarkan   ajaran-ajarannya,   mengimani  semua  yang  dibawanya,  menaati  perintah  dan  larangannya,  membelanya  semasa   hidup   maupun   setelah   wafat,   melawan   para   musuhnya,   membela   para   pengikutnya,  menghormati  hak-haknya,  memuliakannya,  menghidupkan  sunnahnya,  mengikuti  seruannya,  menyebarluaskan  tuntunannya,  tidak  menuduhnya  melakukan  hal  yang  tidak  baik,  menyebarluaskan  ilmunya  dan  memahami  segala  arti  dari  ilmu-ilmunya     dan     mengajak     manusia     pada     ajarannya,     berlaku     santun     dalam     mengajarkannya,   mengagungkannya   dan   berlaku   baik   ketika   membaca   sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para  pengikut  sunnahnya,  meniru  akhlak  dan  kesopanannya,  mencintai  keluarganya,  para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.

Keempat, Nasihat  untuk  para  pemimpin  umat  islam  maksudnya  menolong  mereka  dalam  kebenaran,  menaati  perintah  mereka  dan  memperingatkan  kesalahan  mereka  dengan  lemah  lembut,  memberitahu  mereka  jika  mereka  lupa,  memberitahu  mereka  apa   yang   menjadi   hak   kaum   muslim,   tidak   melawan   mereka   dengan   senjata,   mempersatukan  hati  umat  untuk  taat  kepada  mereka  (tidak  untuk  maksiat  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya),  dan  makmum  shalat  dibelakang  mereka,  berjihad  bersama  mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.

Kelima, Nasihat  untuk  seluruh  kaum  muslim  maksudnya  memberikan  bimbingan  kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan  akhirat,  memberikan  bantuan  kepada  mereka,  menutup  aib  dan  cacat  mereka,  menghindarkan  diri  dari  hal-hal  yang  membahayakan  dan  mengusahakan  kebaikan  bagi   mereka,   menyuruh   mereka   berbuat   ma’ruf   dan   mencegah   mereka   berbuat   kemungkaran   dengan   sikap   santun,   ikhlas   dan   kasih   sayang   kepada   mereka,   memuliakan  yang  tua  dan  menyayangi  yang  muda,  memberikan  nasihat  yang  baik  kepada  mereka,  menjauhi  kebencian  dan  kedengkian,  mencintai  sesuatu  yang  menjadi  hak   mereka   seperti   mencintai   sesuatu   yang   menjadi   hak   miliknya   sendiri,   tidak   menyukai    sesuatu    yang    tidak    mereka    sukai    sebagaimana    dia    sendiri    tidak    menyukainya,  melindungi  harta  dan  kehormatan  mereka  dan  sebagainya  baik  dengan  ucapan  maupun  perbuatan  serta  menganjurkan  kepada  mereka  menerapkan  perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam.

Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang  lain  terlepas  dari  kewajiban  ini.  Hal  ini  merupakan  keharusan  yang  dikerjakan  sesuai   kemampuan.   Nasihat   dalam   bahasa   arab   artinya      “membersihkan”   atau   “memurnikan”  seperti  pada  kalimat  nashahtul  ‘asala  artinya  saya  membersihkan  madu hingga  tersisa  yang  murni,  namun  ada  juga  yang  mengatakan  kata  nasihat  memiliki  makna lain. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ibnu Daqiq al-‘Ied

[Disalin dari kitab Syarhul Arba’iina Hadiitsan An-Nawawiyah karya Ibnu Daqiq al-‘Ied edisi Indonesia Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah Yogyakarta]

Posting Komentar

0 Komentar