Iman Kepada Fitnah Kubur
Wajib beriman bahwa manusia akan diuji di dalam kubur mereka, setelah mati. Ujian ini disebut dengan fitnah kubur . Telah ditegaskan oleh Nabi bahwa manusia akan diuji di dalam kubur mereka. Mereka akan ditanya:
مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَادِيْنُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟ فَالْمُؤْمِنُ يَقُولُ: رَبَّ الله وَدِينِيَ الإِسْلَمُ وَنَبِيِّى مُحَمَّدٍ صلی الله عليه وسلم، وَالْفَاجِرُ يَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُ شَيْئًا فَقُلْتُهُ فَيُقَالُ لَهُ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ وَيُضْرَبُ فَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ فَيَصِيحُ صَيْحَةً كُلُّ شَيْئًا إِلاَّ الإِنْسَانُ وَلَو سَمِعَهَا لَصَعِقَ
“Siapakah Rabbmu? Apa agamamu? Siapakah nabimu?" Adapun orang mukmin akan menjawab, "Rabb-ku Allah, agamaku Islam dan nabiku Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam." Sedangkan orang yang fajir akan menjawab, "Ah, ah, aku tidak tahu. Aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku ikut mengatakannya." Lalu dikatakan kepadanya, "Engkau tidak tahu dan tidak mengikuti orang yang tahu!" Ia dipukul dengan palu besi sehingga menjerit dengan jeritan yang terdengar oleh segala sesuatu, kecuali manusia.[1] Seandainya manusia mendengarnya, niscaya tersungkur pingsan.”[2]
Allah Ta’ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاء
Artinya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim ayat 27)
Nikmat Dan Adzab Kubur
Hal ini tersebut di dalam Al-Kitab dan As-Sunah dan ia merupakan kebenaran yang harus diimani. Karena, setelah usai fitnah kubur -kita berlindung kepada Allah dari fitnah dan adzab kubur- ada dua kemungkinan: memperoleh adzab atau nikmat.
Barangsiapa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian di alam kubur, maka ia selamat dan berbahagia di kuburnya dan pada Hari Mahsyar. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, maka ia benar-benar merugi dengan kerugian yang nyata.
Kita memohon kesentausaan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Adzab tersebut berlaku bagi ruh, sedangkan jasad mengikutinya.
Adapun pada Hari Kiamat, adzab tersebut berlaku untuk ruh dan jasad sekaligus. Ringkasnya, adzab dan nikmat kubur adalah benar, berdasarkan petunjuk Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, serta ijma’ umat Islam.
Kiamat Kubra
Wajib beriman bahwa setelah berakhirnya masa kehidupan di dunia, akan terjadi Kiamat Kubra , yaitu ketika Israfil meniupkan sangkakala pertama kali. Setelah itu, Israfil akan meniupkannya lagi yang merupakan tiupan hari kebangkitan, maka seluruh ruh kembali kepada jasad masing-masing sehingga manusia bangkit dari kubur mereka untuk berjumpa dengan Rabbul ‘Alamin, dalam keadaan tanpa alas kaki dan tanpa busana, dan tidak terkhitan.
Yang pertama kali muncul dari kuburnya adalah Nabi Muhammad. Pada hari ini, matahari berada dekat sekali dengan para hamba. Mereka tenggelam dalam keringat sesuai dengan kadar amal perbuatan mereka.
Al-Mizan (Timbangan)
Pada Hari Kiamat, banyak timbangan yang dipasang untuk menimbang amal para hamba.
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (QS. Az-Zalzalah ayat 7-8)
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ. تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ
Artinya: “Barangsiapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahannam.” (QS. Al-Mukminun ayat 102-103]
Timbangan ini benar-benar ada seara hakiki, mempunyai neraca dan dua daun timbangan.
Buku-buku Dan Lembaran-lembaran Catatan Amal Yang Dibagi-bagikan
Pada Hari Kiamat ini buku-buku catatan amal dibagikan dan dibuka. Ada yang mengambil buku-buku dan lembaran-lembaran amalnya itu dengan tangan kanannya, maka orang ini berhak mendapatkan kebahagian abadi. Ia tidak merasakan kesengsaraan lagi sesudahnya. Allah Ta’ala berfirman:
فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَيَقُولُ هَاؤُمُ اقْرَؤُوا كِتَابِيهْ. إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيهْ. فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ. فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ. قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ
Artinya: “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia berkata, "Ambilah, bacalah kitabku ini! Sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku." Maka, ia berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam jannah-jannah yang tinggi. Buah-buahannya dekat.” (QS. Al-Haaqqah ayat 19-23)
Kita memohon kepada Allah karunia-Nya, agar Dia menjadikan kita salah seorang dari mereka yang mengambil buku catatan amalnya dengan tangan kanannya ini.
Ada lagi orang yang mengambil kitab catatannya dari belakang punggungnya dengan tangan kirinya, maka orang ini berhak memperoleh kesengsaraan. Kita memohon kepada Allah kesentausaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيهْ. وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيهْ. يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ. مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيهْ. هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيهْ. خُذُوهُ فَغُلُّوهُ. ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ
Artinya: “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang dariku kekuasaanku.” (Allah berfirman): “Tangkaplah ia, lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah ia ke dalam api Neraka yang menyala-nyala…!” (QS. Al-Haaqqah ayat 25-31)
Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan dan siksa-Nya.
Oleh: Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahfi Al-Qaththany
[Dikutip dari buku Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahfi Al-Qaththany, Terbitan At-Tibyan]


0 Komentar