Hadits ‘Arbain 13 : Mencintai Kebaikan Untuk Orang Lain

Hadits #13

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

[Riwayat Bukhori dan Muslim]

 

Status Hadits dan Takhrijnya:

Kualitas hadits adalah Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 33), Muslim (no. 54), Ahmad (III/176, 251, 272, 289), at-Tirmidzi (no. 2515), Ibnu Majah (no. 66), dan selainnya.

Kandungan Hadits:

Pertama, Iman itu vertingkat-tingkat, ada yang sempurna dan ada yang kurang. Dan ini madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bahwa iman itu bertambah dan berkurang.

Kedua, Anjuran supaya mencintgai kebaikan untuk kaum Mukminin, berdasarkan sabda beliau حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه  (sehingga ia mencintai bagi saudaranya segala (kebaikan yang dicintainya untuk dirinya sendiri).

Ketiga, Dilarang menyukai untuk saudaranya apa yang tidak disukainya untuk dirinya sendiri, karena dengan demikian imannya akan berkurang, sampai-sampai Rasulullah menafikan keimanan darinya. Ini menunjukkan perumpamaanya seseorang mencintai untuk saudara-saudaranya segala yang dicintainya bagi dirinya sendiri.

Keempat, (Anjuran untuk) menguatkan ikatan di antara kaum Mukminin.

Kelima, Barangsiapa yang memiliki sifat tersebut, maka dia tidak mungkin berlaku dzhalim terhadap salah seorang dari kaum Mukminin, baik berkenaan dengan harta, kehormatan maupun keluarganya, karena ia tidak suka bila seseorang menzhaliminya dengan hal itu, sehingga tidak mungkin ia sendiri senang menzhalimi seseorang berkenaan dengan perkara yang sama.

Keenam, Umat Islam wajib menjadi satu tangan dan satu hati. Ini diambil dari keimanan yang sempurna, yaitu menyukai untuk saudaranya segala hal yang dicintainya untuk dirinya sendiri.

Ketujuh, Mempergunakan kelemahlembutan dalam metode berbicara, seperti dalam ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam لأَخِيْهِ (bagi saudaranya). Seandainya beliau mau, beliau bisa saja mengayakan, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk seorang Mukmin segala hal yang dicintainya untuk dirinya.” Tetapi beliau mengatakan  لأَخِيْهِ (untuk saudaranya), sebagai kelemahlembutan kepada manusia agar menyukai untuk orang Mukmin, segala hal yang disukainya untuk dirinya.

 

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[Dikutip secara ringkas dari kitab Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal. 26-31 Ed. T, Tedrjemahan Indonesia Hadits Arbain An-Nawawi Cet. Darul Haq, Penerjemah Ahmad Syaikhu, S.Ag]

Posting Komentar

0 Komentar