Tidak tenangnya hati pertama bisa jadi karena was-was syaithan yang dibisikkan kepada manusia. Syaithan akan membisikkan perkara-perkara yang membuat seseorang terus memikirkannya dan bahkan menjatuhkan seorang hamba kepada kemaksiatan atau kesesatan.
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
“Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?’ Hingga dia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Oleh karena itu, jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan (was-was tersebut).” (HR. Bukhari)
Penyebab lain daripada goyahnya ketenangan hati adalah dosa. Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك
“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292))
Atau bisa jadi hati tidak tenang tatkala seseorang terjatuh kepada perkara syubhat (tidak jelas hukumnya) ketika dikerjakan. Ia ragu-ragu apakah yang dikerjakan itu benar ataukah tidak. Maka nasihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
“Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200)
Solusi yang dapat dilakukan adalah berdzikir kepada Allah dengan. Dzikir adalah kunci ketenangan hati, kesejukan jiwa dan penghilang kesedihan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allâh, ketahuilah dengan mengingat Allâh hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d ayat 28)
Diantara dzikir yang disunnah oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang insya Allah dapat mengusir segala macam mara bahaya adalah dzikir pagi dan petang atau dengan melakukan ruqyah tehadap diri, dapat dengan membacakan ayat-ayat ruqyah kemudian mengusapkan kepada badan.
Maka mungkin saja, walaupun kita sering mengucap dzikir di lisan, namun hati belum bisa tenang dikarenakan kita tidak berlaku ihsan ketika membacanya, yaitu bisa karena tidak ikhlas atau tidak merasa diawasi oleh Allah Jalla Jalaluh.
Kemudian solusi ketenangan hati yang lain terletak pada sholat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إن الإنسان خلق هلوعا . إذا مسه الشر جزوعا . وإذا مسه الخير منوعا . إلا المصلين . الذين هم على صلاتهم دائمون
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’aarij ayat 19-23).
Maka tatkala kita memang sholat namun hati belumlah bisa tenang maka coba periksa sholat kita kembali, apakah kita murni sholat karena Allah ataukah tidak atau apakah selama ini sholat yang kita kerjakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ataukah tidak. Karena tatkala kita mengetahui dalil-dalil mengenai ibadah yang kita kerjakan insya Allah ketenanganpun akan menghampiri.
Kemudian obat ketenangan hati yang lain adalah Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus 10 ayat 57)
Kemudian cara lain menenangkan jiwa adalah menghadiri majelis ilmu atau menuntut ilmu, mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi akhirat dan dunianya, terutama mempelajari ilmu tentang ketahuidan kepada Allah Azza wa Jalla. Tatkala seseorang mengenal Rabbnya maka insya Allah ketenangan akan didapati. Ketika seseorang merasa gelisah dengan rezekinya maka ia akan tenang ketika mengetahui bahwa Allah lah yang Maha Pemberi Rezeki, tatkala ia gelisah karena pekerjaan, penyakit, merasa lemah, dll. Maka tatkala ia mengetahui KeMaha Kuasaan Allah maka ia akan tenang.
Wallahu aʼlam.


0 Komentar